Seperti Galaxy S7 Edge, Mi Note 2 Punya Layar Lengkung?

Beberapa waktu lalu beredar bocoran gambar yang diduga sebagai Xiaomi Mi Note 2. Gambar itu memperlihatkan bodi perangkat yang mirip Galaxy S7 Edge, yakni memiliki layar melengkung di sisi kiri dan kanan.

Phone Arena
Bocoran foto Xiaomi Mi Note 2

Kini, muncul gambar yang mengonfirmasi bocoran sebelumnya sekaligus menambah informasi baru, sebagaimana dilaporkan AndroidPure dan dihimpun KompasTekno, Selasa (30/8/2016).

Bocoran itu kembali memperlihatkan layar lengkung cuma di sisi kanan depan dan belakang ponsel.

AndroidPure
Bocoran gambar Xiaomi Mi Note 2.
Selain soal layar lengkung, gambar teranyar memperlihatkan bahwa Mi Note 2 menghadirkan port USB-C pada sisi bawah ponsel dan port jack pada sisi atas. Kamera utama ganda pada sisi belakang ponsel juga semakin diperkuat pada bocoran terbaru.

Tombol “home” Xiaomi digadang-gadang bakal memiliki kemampuan Force Touch super sensitif. Dipatrikan pula kemampuan pemindai sidik jari alias fingerprint scanner untuk menjamin keamanan.

Perangkat ini digosipkan memiliki “otak” pemrosesan berupa chipset Qualcomm Snapdragon 820 atau 821, RAM 6 GB, dan memori penyimpanan 128 GB.

Bentang layarnya seluas 5,7 inci dengan resolusi quad HD (2.560 x 1.440). Semua spesifikasi tersebut berjalan menggunakan suplai daya dari baterai berkapasitas 4.000 mAh.

Tampaknya Xiaomi memang memproyeksikan Mi Note 2 sebagai pesaing utama Galaxy S7 Edge. Meski demikian, tak diketahui apakah layar melengkung Mi Note 2 cuma untuk kebutuhan desain atau memiliki fungsi serupa dengan Galaxy keluaran Februari lalu.

Xiaomi diprediksi akan meluncurkan Mi Note 2 pada 5 September mendatang. Pengguna cukup bersabar sebentar lagi untuk mengetahui apakah semua bocoran tersebut benar atau Xiaomi justru menyelipkan kejutan yang berbeda.

Ini Alasan Pemerintah Bangun Palapa Ring

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menjelaskan alasan di balik pembuatan proyek jaringan Palapa Ring.

Rudiantara membeberkan, semua operator telekomunikasi belum membangun jaringan secara merata di seluruh Indonesia. Lantas, Palapa Ring dianggap sebagai solusi paling tepat dari masalah tersebut.

Sebelum menentukan wilayah yang jadi target pembangunan Palapa Ring, Rudiantara mengatakan telah berdiskusi dengan seluruh operator telekomunikasi.

Para operator pun memberikan jawaban berupa surat yang menyatakan niatnya membangun wilayah-wilayah tertentu.

Berdasarkan surat tersebut, imbuh Rudiantara, dapat diketahui daftar wilayah yang tidak akan dikembangkan oleh para operator.

Baca: Dapat Pendanaan Rp 975 Miliar, Palapa Ring Tengah Mulai Digarap November 2016

“Jadi kalau ada (operator) yang mengatakan saya bangun ke mana-mana, dalam suratnya malah mengatakan tidak membangun (wilayah tertentu) kok. Makanya kami membuat Palapa Ring ini,” ujarnya saat ditemui usai penandatanganan Perjanjian Pembiayaan untuk Palapa Ring Paket Tengah, di Jakarta, Senin (29/8/2016).

“Kalau misal ada (operator) yang bangun Indonesia semuanya, Palapa Ring ya tidak akan dibangun. Artinya ada daerah yang tidak akan dibangun operator karena tidak visible,” imbuhnya.

Dianggap tidak menguntungkan

Pria yang akrab disapa Chief RA ini menjelaskan bahwa Palapa Ring merupakan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang bakal menjangkau wilayah-wilayah terpencil dan perbatasan.

Operator telekomunikasi rata-rata enggan memasuki wilayah tertentu karena menilai bisnis tidak menguntungkan. Solusinya, pemerintah masuk dan membangun sendiri jaringan telekomunikasi.

“Karena kami harus membangun seluruh indonesia,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, Palapa Ring ini terbagi menjadi Paket Barat, Tengah dan Timur. Paket Barat merupakan bentangan kabel serat optik sepanjang lebih kurang 2.000 kilometer dan menjangkau Riau, Kepulauan Riau, hingga Pulau Natuna.

Paket Tengah bakal membentangkan kabel serat optik sekitar 1.676 kilometer yang menjangkau ujung-ujung Pulau Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara.

Sedangkan Paket Timur rencananya berupa kabel serat optik sepanjang 6.300 kilometer yang menjangkau Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, dan Papua (pedalaman).

Editor Facebook Diganti Mesin, Linimasa Dibanjiri Berita Tak Senonoh

Sepanjang akhir pekan lalu, Facebook membanjiri artikel Trending yang tak senonoh di linimasanya. Usut punya usut, artikel tersebut adalah berita bohong (hoax) yang muncul karena kurasi artikel Trending kini diserahkan kepada mesin, bukan lagi karyawan.

Beberapa artikel yang dimuat Facebook di bagian Trending antara lain berita mengenai pembawa acara stasiun televisi Fox News Megan Kelly yang dipecat karena terbukti mendukung kandidat Presiden AS, Hillary Clinton.

Selain itu, Facebook juga menampilkan artikel tentang pembawa acara komedi televisi yang meghina dan merendahkan politisi Ann Coulter. Ada juga artikel tak senonoh yang memuat tautan ke video seorang lelaki bermasturbasi dengan sandwich McDonald’s.

Artikel-artikel di atas ternyata adalah berita hoax yang dikurasi oleh algoritma Facebook untuk dikonsumsi penggunanya.

Tugas kurasi artikel Trending memang telah diserahkan Facebook kepada algoritma komputernya, setelah pada Jumat (26/8/2016) lalu Facebook memecat kurator dan editor manusia (bukan mesin) yang selama ini bertugas memilih artikel untuk ditampilkan di Trending.

Dikutip KompasTekno dari The Guardian, Selasa (30/8/2016), pemecatan itu dilakukan secara tiba-tiba dalam pertemuan tertutup yang dijaga oleh pihak keamanan perusahaan. Karyawan-karyawan kurator Trending itu diberi pesangon satu bulan gaji.

Facebook meminta maaf atas tampilnya berita bohong tersebut di linimasanya. Pihak Facebook juga mengatakan akan memperbaiki algoritma mesinnya dalam memilih artikel Trending, agar menampilkan berita dari sumber situs yang terpercaya.

Trending adalah daftar artikel yang disajikan oleh Facebook bagi pembaca. Fitur ini tersedia di pojok kanan atas linimasa Facebook.

Baca: Trending Topics Segera Muncul di Laman Facebook

Fitur ini telah dirilis sejak 2014 lalu untuk pengguna di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Inggris Raya, Kanada, India, dan Australia.

Langkah Facebook menghadirkan Trending adalah upayanya untuk menyaingi fitur Trending Topics di Twitter.

Apple Digugat karena Layar iPhone 6

Sejumlah pengguna yang kecewa dengan cacat layar pada iPhone 6 dan 6 Plus mengajukan gugatan hukum. Pasalnya, cacat tersebut fatal dan berakibat ponsel jadi tidak berfungsi sama sekali.

Gugatan itu dikategorikan sebagai class action dan diajukan melalui pengadilan federal di San Jose, California.

Tuduhannya adalah, Apple telah melanggar undang-undang perlindungan konsumen di California. Namun tak disebutkan dengan jelas berapa ganti rugi yang diharapkan dari kasus ini.

Cacat yang dimaksud penggugat dikenal dengan istilah “penyakit layar sentuh”. Cirinya berupa sebuah garis abu-abu yang berkedip di bagian atas layar dan membuat iPhone 6 dan 6 Plus sama sekali tak bisa dipakai.

Di dalam formulir pengajuan gugatan disebutkan bahwa Apple sebenarnya telah mengetahui cacat yang dimaksud, namun menolak untuk memperbaikinya.

Penggugat juga menyatakan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan keputusan Apple untuk menghilangkan lempengan logam pelindung yang mestinya diselipkan di bawah layar. Lapisan pelindung seperti ini sempat dipakai pada iPhone 5.

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari Reuters, Selasa (30/8/2016), penggugat terdiri dari tiga orang, yaitu Todd Cleary dari California, Jun Bai dari Delaware serta Thomas Davidson dari Pennsylvania.

Apple sendiri belum mengeluarkan komentar apapun terkait gugatan hukum ini.

Fitur “Contekan” di Instagram Laris Manis

Instagram Stories, fitur yang secara blak-blakkan diakui sebagai tiruan Snapchat, telah sukses memikat banyak pengguna. Setidaknya berdasarkan klaim, pengguna fitur tersebut sudah tembus 100 juta orang.

Angka ini dicapai dengan cara membuat sebuah kolom baru yang disematkan di bagian teratas menu Explore. Posisi tersebut merupakan tempat yang sangat strategis karena merupakan salah satu bagian yang paling sering dikunjungi pengguna.

“Ada orang yang menganggap menu Explore ini sebagai tujuan utama saat membuka Instagram. Beberapa orang lain menganggap kunjungannya ke sana sebagai kegiatan penutup,” jelas Director of Product Management Instagram, Blake Barnes, sebagaimana dilansir KompasTekno dari The Next Web, Selasa (30/8/2016).

Kolom Stories di bagian menu Explore tersebut menampilkan konten yang berbeda. Isinya berupa momen-momen, baik foto atau video singkat, hasil tangkapan pengguna dari berbagai belahan dunia. Bukan sekadar momen milik akun tertentu yang diikuti oleh pengguna.

Menu Explore memang dibuat untuk membantu pengguna mengenal akun baru dan menemukan lebih banyak foto yang relevan dengan minatnya. Akun yang direkomendasikan dalam menu Explore merupakan hasil saringan algoritma, dengan memperhitungkan berbagai like dan followers Anda.

Untuk diketahui, setelah meluncurkan fitur bernama Stories, Systrom secara blak-blakkan menyatakan mendapat inspirasi dari Snapchat.

“Mereka (Snapchat) seutuhnya pantas mendapatkan pujian ini,” ujar Systrom awal bulan ini.

Baca: Bos Instagram Mengaku “Nyontek” Snapchat

Fitur baru tersebut dirilisnya agar pengguna mendapatkan pilihan baru dan lebih aktif memakai media sosial tersebut. Stories sendiri punya karakter berbeda dengan linimasa utama Instagram.

Di dalam Stories, pengguna diajak menampilkan sembarang momen, cenderung biasa saja, dalam bentuk slide berdurasi 10 detik. Sedangkan linimasa Instagram merupakan wadah yang kerap kali menuntut pengguna mengunggah foto terbaiknya, bukan sembarang momen

Mapan di Singapura, Jay dan Dimas Pilih Bikin “Startup” di Indonesia

Kerja mapan dengan gaji tinggi di Singapura bukan tujuan hidup Jay Jayawijayaningtiyas dan Made Dimas Astra Wijaya. Dua sahabat yang sempat tinggal serumah di Negeri Singa itu memilih pulang ke Tanah Air dan mendirikan startup jasa rumah tangga “Ahlijasa”.

Jay adalah lulusan Nanyang Technology University (NTU), sementara Dimas merupakan alumi National University of Singapore (NUS). Menyandang titel sebagai lulusan dua universitas ternama di Singapura, Jay dan Dimas pun diterima kerja di industri perbankan yang dipandang bergengsi di negeri tetangga.

Keduanya memegang posisi strategis di tempat kerja masing-masing. Dimas bahkan sempat menjabat Assistant Vice President di FX Trading Technology Team of Merrill Lynch di Singapura. Lantas, apa yang mendorong mereka menanggalkan kemapanan itu?

“Di Singapura kami cuma memperkaya diri sendiri, nggak ada hasilnya untuk banyak orang. Rasanya kosong,” kata Jay saat ditemui KompasTekno beberapa saat lalu di Conclave, Jakarta.

Dimas sepakat dengan rekan rantaunya itu. Bekerja di perusahaan membuatnya merasa seperti mesin yang tiap hari melakukan hal sama.

“Kalau ada masalah, saya nggak bisa apa-apa kecuali stres di kantor. Akhirnya pekerjaan nggak maksimal, masalah juga nggak selesai,” ia menuturkan.

Pada satu titik, Dimas pun merasa sudah waktunya melakukan hal yang lebih menantang dan berdampak bagi orang banyak. Menurut dia, menjadi entrepreneur memang tak menjanjikan penghasilan tetap. Namun setidaknya ia bisa mengontrol hidupnya secara utuh.

“Di Ahlijasa, kalau hari ini ada yang mau kencan atau pergi sama keluarga silakan saja. Nggak perlu minta izin, asalkan pekerjaan beres. Kami lebih fleksibel bekerja tapi justru lebih efektif,” ia menjelaskan.

Pilihan banting stir dari kerja korporat ke usaha rintisan digital diakui Dimas penuh lika-liku. Pria yang mendirikan Ahlijasa sekaligus menjabat CTO itu sempat diusir dari rumah karena keluarga tak senang dengan jalur yang ia ambil.

“Value membangun startup susah saya jelaskan. Ayah, ibu, dan saudara saya semua orang perbankan,” ia mengimbuhkan.

Kesulitan restu keluarga juga dirasakan Jay, meski kasusnya tak seekstrim Dimas. Jay tumbuh di keluarga pegawai negeri di mana pemikiran yang terbentuk soal kesuksesan adalah gaji tetap dan tunjangan hari tua.

Tapi Jay berhasil meyakinkan keluarga bahwa ia mampu bertanggung jawab atas pilihannya. Keluarga Jay pun pelan-pelan luluh dan percaya pada jalan yanh ditempuh sang anak lelaki.

“Ini waktunya kami ambil risiko, selama masih muda. Tentu saja risikonya juga sudah dipikirkan secara matang,” kata sang CEO.

Kenapa pilih jasa rumah tangga?

Ahlijasa sejatinya adalah layanan on-demand untuk jasa rumah tangga yang terstandardisasi. Beberapa kebutuhan yang telah terakomodir di aplikasi dan sitis Ahlijasa adalah laundry, servis AC, dan jasa pembersih rumah.

Sistem bisnisnya mengandalkan kemitraan dengan para pelaku bisnis kecil dan menengah. Mitra-mitra itu menyediakan jasa, sedangkan Ahlijasa menjadi pematok standar baku dan mediator ke pelanggan yang lebih luas.

Ahlijasa baru berjalan pada Januari 2016. Mulanya mereka cuma menawarkan jasa laundry kelas premium dengan harga menengah. Seiring berjalannya waktu, Ahlijasa pun mulai merambah ke servis AC dan jasa pembersih rumah.

Sebanyak 15.000-an netizen telah menjadi pengguna Ahlijasa. Angka itu mencatat pertumbuhan rata-rata 40 persen per bulan sejak didirikan delapan bulan lalu. Tiap harinya mereka melayani sekitar 100 order dengan mengandalkan jasa 30 mitra.

Menggeluti bisnis rumah tangga, bukan berarti Dimas dan Jay punya hasrat besar di bidang tersebut. Dimas mengatakan hasrat dasar mereka adalah menjadi entrepreneur.

“Kami lihat industri apa saja di Indonesia. Kemudian kami cari masalahnya. Ternyata memang jasa laundry sangat banyak bermasalah. Di situ pasti peluang bisnisnya besar,” Dimas menjelaskan.

Prinsip utamanya adalah tak ikut arus. Jika saat ini layanan ride-sharing dan e-commerce dianggap “seksi”, Dimas justru enggan terjun ke industri tersebut.

Menurut dia, startup pada dasarnya tentang siapa yang pertama. Misalnya ada startup jenis A yang sukses, ia yakin si A akan selamanya jadi raja dan tak bisa ditandingi para pengikutnya.

Kegigihan Dimas dan Jay mampu membawa mereka ke kompetisi dunia Startup Worldcup yang berlangsung pada Maret 2017 mendatang. Ahlijasa terpilih sebagai startup perwakilan regional Asia Tenggara.

Mereka berhasil menyisihkan sekitar 800 startup yang mendaftar. Pada tahap terakhir, Ahlijasa berkompetisi dengan sembilan startup terbaik dari Indonesia, Singapura, dan Filipina. Masing-masing adalah U-Hop, QLue, Pro Sehat, Kashmi, Talenta, Recomn, Klikdaily, Kioson, dan Taralite.

Meski kompetisi dunia lebih menegangkan bagi Dimas dan Jay, keduanya mengaku optimis karena potensi startup di Indonesia sangat besar.

Facebook Bakal “Bebaskan” Pelacak Korban Bencana

Facebook berencana mengubah kebijakan soal fitur pelacak korban bencana atau Safety Check. Perubahan yang dimaksud akan membuatnya menjadi suatu fitur umum yang bisa diaktifkan oleh siapapun dalam keadaan darurat.

Rencana ini diungkap oleh CEO Facebook Mark Zuckerberg saat bicara dalam pertemuan di Universitas Luiss di Roma, Italia.

“Saat Safety Check mulai diluncurkan beberapa tahun lalu, fitur ini hanya dipakai saat terjadi bencana alam. Kami pun mengubahnya agar bisa diaktifkan saat terjadi serangan teroris, karena hal ini menjadi sesuatu yang umum terjadi selama beberapa tahun belakangan,” terang Zuckerberg.

“Rencana kami berikutnya adalah memastikan agar komunitas bisa menyalakan Safety Check ini saat terjadi bencana tertentu di dekat mereka,” imbuhnya.

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari The Verge, Selasa (30/8/2016), rencana perubahan kebijakan Safety Check ini masih belum memiliki tenggat waktu yang jelas. Namun jika sudah meluncur, fitur yang terbuka untuk umum itu berpotensi memberikan citra positif.

Untuk diketahui, sejak peluncuran Safety Check pada 2014, Facebook kerap dikritik karena hanya menyalakannya saat terjadi bencana tertentu.

Misalnya, saat terjadi serangan teroris di Paris, fitur untuk mengecek kondisi orang tercinta itu langsung dinyalakan. Sedangkan saat serangan serupa terjadi di Lebanon, Facebook sama sekali tak mengaktifkannya.

Baca: Facebook Lacak Korban Paris tetapi Beirut Tidak, Ini Kata Zuckerberg

Pasca kejadian itu Facebook menerima banyak kritik dan akhirnya mulai memperluas jangkauan Safety Check buatannya. Selanjutnya, dengan membukakan akses Safety Check untuk pengguna, jangkauan aktivasinya bisa jadi akan lebih luas.