Mi Note 2 Punya RAM 6 GB?

Xiaomi dikabarkan bakal meluncurkan flagship teranyar, Mi Note 2, pada September mendatang. Beberapa bocoran spesifikasinya telah menyeruak di ranah maya.

Mi Note 2 dikatakan bakal jadi smartphone Xiaomi pertama yang memiliki RAM 6 GB, sebagaimana dilaporkan PhoneArena dan dihimpun KompasTekno, Senin (29/8/2016).

Phone Arena
Bocoran foto Xiaomi Mi Note 2

Hal itu semakin terkonfirmasi melalui sebuah screenshot yang beredar. Selain kapasitas RAM, terkuak pula “jeroan” Mi Note 2 yang tak lain adalah Snapdragon 820.

Sebelumnya, bocoran menyebut Mi Note 2 bakal dibekali Snapdragon 821, chipset bikinan Qualcomm yang lebih baru. Belum jelas mana yang nantinya bakal diterima pengguna.
PhoneArena
Screenshot bocoran spesifikasi Mi Note 2.
Untuk sistem operasi, Mi Note 2 disebut-sebut sudah berjalan pada Android Nougat 7.0 termutakhir dengan antarmuka MIUI 8.6.8.26.

Kapasitas penyimpanan internalnya 64 GB, di mana 52,2GB bebas digunakan untuk unduh aplikasi atau membidik foto dan video. Sisanya digunakan untuk menjalankan bloatware.

Ponsel ini dikabarkan akan muncul dengan layar berukuran 5,5 inci melengkung layaknya lini Galaxy Edge Samsung. Berdasarkan bocorannya, tampaknya flagship Xiaomi ini diproyeksikan untuk bersaing dengan Galaxy Note 7 keluaran Samsung.

Benar atau tidaknya berbagai bocoran bakal diketahui dalam waktu dekat. Mi Note 2 digadang-gadang akan meluncur bertepatan dengan ajang IFA 2016 di Berlin, Jerman, pekan depan.

Hari Ini, Menkominfo Bahas Interkoneksi dengan Semua Operator

Hari, Senin (29/8/2016) Kementerian Kominunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memanggil Telkom, Telkomsel, XL Axiata (XL), Indosat Ooredoo (Indosat), Smarfren dan Hutchison Three Indonesia (Tri).

Pertemuan tersebut membahas perihal tarif interkoneksi baru yang rencananya akan diberlakukan pada 1 September 2016 mendatang. Namun, pertemuan digelar tertutup, di lantai 7 Gedung Kemenkominfo, Jakarta Pusat.

Di dalam pertemuan itu hadir Menkominfo Rudiantara, Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah, Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga dan Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Bidang Hukum, I Ketut Prihadi Kresna.

“(Pertemuan pertama) tadi cuma sebentar saja kok. Lebih kurang 15 menit lah. Masih medengarkan apa maunya Telkom dan Telkomsel, belum ada keputusan apa-apa dari pertemuan itu,” terang Ketut saat ditemui KompasTekno usai pertemuan.

Pertemuan tersebut berjalan dalam dua sesi. Pertama adalah diskusi dengan Telkom dan Telkomsel. Sedangkan kedua, adalah diskusi dengan XL, Indosat, Smartfren, serta Tri.

“Tadi Telkom dan Telkomsel menyatakan maunya bagaimana, lalu kami seperti apa. Persis sama dengan yang dipaparkan di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kemarin. Ya seperti itu saja. Nanti siang kan masih ada pembahasan lagi dengan operator lain,” imbuhnya.

Sementara itu, Alex dan Ririek, saat ditemui dalam kesempatan yang sama, enggan berbicara banyak. Keduanya meminta agar menunggu pernyataan dari Menkominfo saja.

“Tadi tidak bicara apa-apa. Nanti saja, tunggu dari Pak Menteri,” ujar Ririek singkat.

Untuk diketahui, interkoneksi adalah biaya yang mesti dikeluarkan operator saat pengguna layanan komunikasinya menghubungi operator lain, baik berupa panggilan atau pesan singkat.

Sebelumnya, Kemenkominfo mengeluarkan keputusan terkait perhitungan penurunan tarif interkoneksi. Penurunan tarif interkoneksi rata-rata 26 persen untuk 18 skema panggilan dan akan berlaku pada 1 September 2016.

Baca: Kemenkominfo Tetapkan Tarif Interkoneksi Baru

Salah satu operator yang keberatan terhadap penurunan tarif interkoneksi tersebut adalah Telkomsel. Mereka berharap perhitungan mengenai penurunan tarif interkoneksi itu dilakukan dengan lebih adil.

Tarif interkoneksi ini pun kemudian menjadi pembahasan dalam Rapat Dengar Pendapat antara Menkominfo dengan Komisi 1 DPR. Topik yang dibicarakan antara lain soal surat edaran mengenai perhitungan penurunan tarif, risiko kerugian negara jika interkoneksi turun, dan besaran manfaat penurunan tarif itu terhadap industri serta masyarakat.

Asosiasi Sambut Baik Tiga Skema Baru TKDN

Asosiasi Industri Perangkat Telematika Indonesia (AIPTI) mengatakan telah menerima pemberitahuan terkait skema Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang baru.

Wakil Ketua AIPTI, Lee Kang Hyun, saat bincang dengan KompasTekno Minggu (28/8/2016) mengatakan bahwa aturan yang baru sudah cukup adil dan memiliki konsep yang jelas, sesuai progress investasi.

Lee juga mengungkapkan bahwa dia telah membicarakan aturan baru tersebut dengan Direktur Jenderal Industri, Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elekronika (Ilmate), Kementrian Perindustrian (Kemenperin), I Gusti Putu Suryawirawan

“Saya sudah bertemu dengan Pak Putu dan bicara mengenai peraturan TKDN baru. Beliau cukup jelaskan skema-skema dalam tiga jalur, termasuk investasi,” terangnya.

Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.com
(kanan, berbaju batik) Wakil Ketua Asosiasi Industri Perangkat Telematika Indonesia Lee Kang Hyun saat menghadiri Indonesia LTE Conference 2016 di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (18/5/2016)
“Itu cukup membantu perkembangan industri telekomunikasi Indonesia dan memberikan kesempatan baik kepada para investor. Skemanya juga cukup adil dan jelas,” imbuhnya.

Aturan TKDN yang dimaksud Lee adalah Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 65 tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata Cara Penghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri Produk Telepon Seluler, Komputer Genggam (Handheld), dan Komputer Tablet.

Lee menambahkan, TKDN bisa membantu industri karena memberikan kejelasan. Pasalnya sejak pencanangan TKDN pada 2015 lalu, pemerintah hanya menetapkan syarat kandungan 30 persen yang berlaku pada 1 Januari 2017.

Sedangkan tata cara pemenuhan persentase tersebut malah berubah-ubah dan penuh perdebatan.

“Peraturannya lebih jelas. Jadi kalau semua brand mau usaha di Indonesia, mereka tinggal mengikuti cara hitung TKDN. Kalau berat software, mereka bisa memilih hardware. Biar seimbang,” ujarnya.

Selain itu, dia juga menilai bahwa pilihan ketiga, yaitu pemenuhan TKDN melalui komitmen dan realisasi investasi dengan nilai tertentu, bakal berdampak positif bagi Indonesia.

“(TKDN berdasar investasi) itu positif. Supaya mendorong (vendor) segera mendapatkan TKDN selama setahun,” imbuh Lee.
“Sekarang tinggal bagaimana mengurangi black market. Katanya itu pun sedang dibahas metode blokir melalui IMEI,” pungkasnya.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memang belum mengumumkan skema Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) ponsel 4G yang baru. Namun dalam salinan yang diterima KompasTekno, peraturan mengenai penghitungan tersebut telah ditandatangani oleh Menperin terdahulu, Saleh Husin.

Yoga Hastyadi Widiartanto/Kompas.com
Sampul depan salinan Permenperin No 65 Tahun 2016
Rincian Skema TKDN

Untuk diketahui, Peraturan Menteri No 65 tahun 2016 memang belum diumumkan oleh Kemenperin. Namun KompasTekno, dari sumber dalam industri, telah mendapatkan salinan yang sudah disahkan oleh tanda tangan Menperin terdahulu, Saleh Husin. Sedangkan saat ini jabatan Kemenperin diisi oleh Airlangga Hartanto.

Dalam salinan yang diterima KompasTekno antara lain disebutkan bahwa TKDN 30 persen bisa dipenuhi dengan melakukan investasi yang dominan di hardware, dominan di software, atau rencana investasi lain dengan nilai dan realisasi tertentu.

Lebih detilnya ketiga syarat TKDN itu, pertama, sesuai dengan Pasal 4 yang merinci bahwa vendor mesti memenuhi:
aspek manufaktur = 70 persen
aspek riset dan pengembangan = 20 persen
aspek aplikasi = 10 persen
Aspek aplikasi tersebut, kemudian dirinci lagi dengan syarat pemenuhan sebagai berikut:

Nilai TKDN untuk riset dan pengembangan minimal 8 persen
Aplikasi preload ke ponsel, komputer genggam, atau komputer tablet
Minimal pre load 2 aplikasi atau 4 games lokal
Minimal jumlah pengguna aktif aplikasi lokal 250.000 orang
Injeksi software di dalam negeri
Server di dalam negeri
Memiliki toko aplikasi online lokal
Sedangkan pemenuhan TKDN jalur kedua atau untuk produk tertentu, dimuat dalam Pasal 23 ayat (1), yaitu:

aspek manufaktur = 10 persen
aspek riset dan pengembangan = 20 persen
aspek aplikasi = 70 persen
Aspek aplikasi pada Pasal 23 ayat (1) ini dirinci lagi dengan syarat pemenuhan sebagai berikut:

Nilai TKDN untuk aspek riset dan pengembangan minimal 8 persen
Aplikasi pre load ke ponsel, komputer genggam, dan komputer tablet
Minimal pre load 7 aplikasi atau 14 game lokal
Minimal aplikasi lokal memiliki pengguna aktif 1.000.000 orang
Injeksi software dilakukan di dalam negeri
Server di dalam negeri
Memiliki toko aplikasi online lokal
Harga Cost, Insurance, and Freight (ClF) minimal senilai Rp 6 juta
Sedangkan dalam Pasal 25, dimuat penjelasan mengenai pemenuhan TKDN melalui komitmen dan realisasi investasi.

Syaratnya, perhitungan TKDN berbasis nilai investasi ini hanya berlaku untuk investasi baru, dilaksanakan berdasarkan proposal investasi yang diajukan pemohon dan mendapatkan nilai TKDN sesuai total nilai investasi.

Investasi tersebut pun harus diwujudkan dalam jangka waktu paling lama tiga tahun. Tata caranya, pada tahun pertama vendor mesti merealisasikan 40 persen dari total investasi yang disepakati. Sedangkan sisanya dipenuhi pada tahun-tahun berikutnya.

Baca: Eksklusif: Ini Bocoran Isi Aturan TKDN Ponsel 4G

Vendor mesti menyertakan detil mengenai investasi yang dilakukan tiap tahun, juga mencantumkan tipe produk yang bakal memakai skema penghitungan TKDN berdasarkan nilai investasi.

Rincian nilai investasi yang dimaksud adalah :

Investasi total mulai dari Rp 250 miliar sampai Rp 400 miliar = TKDN 20 persen
Investasi total di atas Rp 400 miliar sampai Rp 550 miliar = TKDN 25 persen
Investasi total di atas Rp 550 miliar sampai Rp 700 miliar = TKDN 30 persen
Investasi total lebih dari Rp 1 triliun = TKDN 40 persen

Samsung Rilis Galaxy On7 di Indonesia, Harganya?

Samsung tengah bersiap menjual smartphone premium, Galaxy Note 7 di Indonesia. Namun sebelumnya, vendor ponsel Korea Selatan itu masih sempat merilis smartphone Android kelas menengah, Galaxy On7 di Tanah Air.

Meski masuk ke kelas menengah, Galaxy On7 dibekali dengan desain fisik yang tergolong mewah. Casing belakang dilengkapi dengan material bertekstur kulit dan rangka ponselnya berbahan logam.

Galaxy On7 dibekali dengan layar TFT berbentang 5,5 inci dengan dukungan resolusi 1.280 x 720 piksel.

Spesifikasi lainnya, sebagaimana KompasTekno rangkum dari situs resmi Samsung, Senin (29/8/2016), meliputi CPU quad-core dengan kecepatan 1,2 GHz, RAM 1,5 GB, dan media penyimpanan internal 8 GB yang bisa ditingkatkan menggunakan kartu microSD hingga 128 GB.

Kapasitas penyimpanan yang tersedia, setelah dipotong untuk alokasi sistem operasi dan aplikasi bawaan (bloatware), adalah sebesar 4,4 GB.

Untuk menjepret gambar, Galaxy On7 memiliki kamera CMOS 13 megapiksel di bagian belakangnya. Sedangkan, untuk keperluan selfie, tersedia kamera 5 megapiksel di bagian depan.

Galaxy On7 sudah dilengkapi dengan dukungan jaringan 4G LTE. Belum diketahui versi Android yang dijalankan, rumor yang beredar adalah versi Android 5.1 Lollipop.

Perangkat itu sudah resmi dijual melalui situs belanja online Lazada mulai hari ini, Senin (29/8/2016). Galaxy On7 dipasarkan dengan harga Rp 2,7 juta di Tanah Air.